Cerita Pelacur, WS Rendra, dan Bulan Purnama di Candi Badut

Malang Kota – Malaikat penjaga Firdaus. Wajahnya tegas dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku. Maka darahku terus beku. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang sengsara. Kurang cantik dan agak tua. Demikian penggalan puisi karya sastrawan WS Rendra berjudul Nyanyian Angsa. Puisi panjang tersebut menceritakan tentang penderitaan seorang pelacur yang bertobat tetapi tidak diterima oleh masyarakat. Dibacakan oleh seniman Kota Malang Dewi Nur Haliza, puisi tersebut menjadi salah satu rangkaian pertunjukan dalam gelaran Mbulan Andadari Badut. Ini merupakan gelaran kedua festival bulan purnama di pelataran Candi Badut, Kabupaten Malang. Bulan purnama kali ini, baik jumlah penampil dan penonton lebih banyak. Masih dengan nuansa kesederhanaan, penyelenggaraan seni-tradisi masyarakat setempat di altar candi itu dilengkapi dengan panggung, lighting, dan soundsystem yang sederhana. Lilin-lilin yang dinyalakan di sekeliling candi membuat suasana malam semakin syahdu. Bukan hanya pembacaan puisi, beragam kesenian ditampilkan. Di antaranya tari Remo, tari kreasi dari Budi Ayuga Dancer, seni bantengan dari kelompok Gemulo Singo Menggolo, Karangbesuki, kolaborasi monolog-gerak-musik akustik yang dibawakan seniman Syamsu dan Meilia, hingga kidungan dan parikan oleh Cak Marsyam. “Umur bumi ini sudah berjuta tahun, termasuk rembulan. Tetapi sejak diterangi listrik, rembulan kita lupakan,” ujar Prof Djoko Saryono yang hadir memberikan orasi budaya. Menurut dia, keberadaan festival bulan purnama itu mengajak masyarakat merasakan kehadiran rembulan kembali. Sebab, rembulan merupakan tanda kebahagiaan. (lil)  

Market Share Daihatsu Tumbuh 16,6 Persen

MALANG KOTA – Prestasi membanggakan berhasil diraih Daihatsu. Meski berada di urutan kedua penjualan otomotif secara nasional, Daihatsu mampu menunjukkan peningkatan. Dari total penjualan otomotif di Indonesia, Daihatsu berhasil meraih market share 16,6 persen selama tahun 2015. Menurut Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra, ada peningkatan sebesar 1,3 persen dibanding tahun 2014. ”Tahun sebelumnya, kami menguasai 15,3 persen pasar. Sudah menjadi tradisi Daihatsu ada peningkatan yang stabil setiap tahunnya,” jelasnya di sela acara Workshop Jurnalis Jawa Timur (Jatim) & Bali, kemarin. Berbeda dengan Toyota yang secara penjualan memang merajai pasar dalam negeri. Sayangnya, ada penurunan dari 33 persen di tahun 2014, menjadi 31,8 persen di tahun 2015. Dari banyak brand otomotif yang ada di Indonesia, hanya ada tiga brand saja yang mengalami peningkatan. Mereka adalah Honda, Datsun, dan Daihatsu sendiri. ”Honda ada peningkatan 2,5 persen dari tahun 2014 ke 2015. Sedangkan penjualan Datsun meningkat 1,2 persen,” terang Amelia. Daihatsu sendiri mempunyai beberapa line up. Untuk multi purpose vehicle (MPV) low bonnet, Daihatsu Xenia menjadi unggulan. Meskipun kalah dan berada diurutan ketiga dari kompetitornya, yaitu Toyota Avanza dan Honda Mobilio. Untuk line up sport utility vehicle (SUV) medium, nasib Daihatsu Terios juga serupa dengan Daihatsu Xenia. Sama-sama berada di urutan ketiga dari pesaingnya, yaitu Honda HRV dan Toyota Rush. ”Penjualan Terios selama 2015 ada 13.375 unit,” ujar Amelia. Masih jauh dari Honda HRV dengan 37.647 unit dan Toyota Rush dengan 26.848 unit. PT ADM sendiri adalah agen pemegang merek Daihatsu di Indonesia. Sekaligus produsen kendaraan merek Daihatsu dan Toyota. Saham ADM dimiliki oleh tiga perusahaan. Yaitu Daihatsu Motor Co Ltd Jepang dengan 61,7 persen, PT Astra Internasional Tbk dengan 31,9 persen, dan Toyota Tsusho Corporation dengan 6,4 persen saham. (zya/c1/lia)  

Okky Madasari: Para Penulis Tak Perlu Takut

MALANG KOTA-”Kalau takut menulis, kita tidak akan menghasilkan tulisan apa-apa,” kata sastrawan Okky Madasari ketika berdiskusi dengan para mahasiswa di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM) Jum’at siang (27/5). Diskusi kemarin merupakan salah rangkaian dalam lawatan Okky kesejumlah kota. Di UM, Oky berbicara dalam diskusi bertema Sastra, Perlawanan Simblik-Tekstual dan Kekuasaan: Meneropong Novel Okky Madasari. Dalam diskusi yang berlangsung sekitar dua jam itu, Okky ditemani Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) Prof Djoko Saryono. Perempuan 31 tahun yang sudah menerbitkan lima novel ini lantas menjelaskan keberaniannya dalam menulis novel berjudul Pasung Jiwa. Novel ini berbuah kontroversi karena mengangkat cerita dengan setting kekejaman rezim orde baru.”Saat terbitnya novel Pasung Jiwa, bukan saya yang takut melainkan penerbitnya yang gentar. Bagi saya ini bukan kesalahan, namun kenyataan yang harus dibeberkan,” tegasnya yang disambut tepuk tangan mahasiswa. Peraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2012 mengatakan kalau kenyataan perlu disampaikan. Jika ada yang merasa emosi pada karyanya, maka bisa jadi cerita dalam novel Okky benar-benar terjadi. Terkait literasi di Malang, Okky mengaku optimis dengan dunia literasi yang ada di kota pendidikan ini.”Penulis muda di Malang memiliki potensi karena saya melihat mereka sangat aktif, apalagi saat ini menerbitkan karya satra tidak perlu biaya yang besar, saya yakin Malang akan semakin berkembang,” jelas istri Abdul Khalik ini. Sementara itu, Prof Djoko Saryono menyebut karya yang diangkat Okky ini ibarat makanan dengan nutrisi tinggi. Sayangnya, karya tersebut masih kalah dengan karya cepat saji seperti buku-buku dengan judul 30 Menit Menjadi Orang Sukses dan beberapa buku tentang cara instan. Buku yang berisi tips cepat tersebut memiliki penjualan yang jauh lebih laris namun kurang nutrisi, layaknya makanan cepat saji. Sedangkan karya Okky jauh lebih sehat dengan rasa yang kurang disukai, karena gaya bahasanya yang berat dan memiliki kualitas sastra yang mumpuni.”Mereka yang bergerak di jalan ini saya sebut pejuang literasi, karena menjadi seorang penulis seperti ini tidak memberikan kekayaan harta yang melimpah,” jelas Guru Besar Bahasa Indonesia UM ini. Djoko melanjutkan, hasil karya Penulis novel Entrok ini dia ibaratkan oase kala dominasi buku yang tidak bernutrisi laris dibeli. Selain itu, menggemanya media sosial serta dunia online kian mengikis minat para generasi muda untuk membaca …

Kebakaran di Pasar Besar Diduga Korsleting Listrik

MALANG KOTA– Ratusan pedagang Pasar Besar Malang (PBM), pagi kemarin (26/5) terlihat pasrah. Mereka hanya bisa memandangi dari kejauhan asap mengepul dari kiosnya yang berada di dalam pasar. Kios-kios itu telah jadi ”santapan” api yang membara sejak pukul 03.00 dini hari. Keinginan mereka untuk menyelamatkan barang dagangan juga dihalangi  petugas gabungan dari kepolisian dan TNI yang siaga sejak pukul 04.00. Ya, tragedi kebakaran dini hari kemarin menjadi duka mendalam bagi pedagang pasar besar.Maklum, ini bukan kejadian yang pertama. Sejak pasar besar ini ada tahun 1914, telah terjadi tiga kali kebakaran besar. Pertama tahun 1985, disusul tahun 2013, dan Mei 2016 kemarin. Pada tahun 2014, di dalam pasar juga sempat terjadi kebakaran. Namun skalanya kecil karena korbannya hanya dua toko saja. Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang sejak dini hari kemarin, titik api diduga berasal dari lantai dasar. Yakni di los toko sayuran dan daging. Tepatnya di pintu 12 atau pasar besar bagian tengah. Sedang penyebab api diduga kuat akibat korsleting listrik. Dari lantai dasar, api terus menjalar hingga ke lantai II yang merupakan blok toko pakaian. Sebelum terjadi kebakaran, lima petugas keamanan pasar sedang berjaga. Mereka adalah Slamet, Budi Raharjo, Eka Agus Hadianto, Ahmad Yudi, Suparji dan Ahmad Rifai. Awalnya kebakaran diketahui Budi Raharjo. Saat itu dia mencium ada bau hangus yang disertai asap. Saat terlihat itu dia bersama rekannya berusaha memadamkan api dengan menyiramnya menggunakan air yang ada di kamar mandi. Namun, api bukannya padam. Api semakin membesar bersamaan dengan tiupan angin yang berhembus kencang. Karena kewalahan, Budi pun menelpon Dinas Pemadam Kebakaran Kota Malang Jalan Bengkel, Kecamatan Sukun. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh mobil damkar (pemadam kebakaran) pun berdatangan ke lokasi. Ketika damkar datang, api sudah membesar. 10 damkar yang diterjunkan sejak awal sudah tidak bisa menjinakkan api. Apalagi minimnya pasokan air akibat hidran mati membuat proses pemadaman terhambat..(zuk/riq/abm)  

Ini Tanggapan Himpunan Jagal di Malang Soal Harga Daging Rp 80 Ribu Perkilo

Ketua Seksi Jagal Himpunan Pengusaha Muslim Indonesia (HPMI) Kota Malang Abu Hasan mengatakan, keinginan Presiden Jokowi agar daging sapi Rp 80 ribu per kilogram, menurut dia bisa dibilang mustahil. ”Karena sapi di Malang ini kekurangan, makanya sapi mahal dan otomatis daging juga mahal,” kata pria yang juga berprofesi sebagai jagal sapi tersebut. Saat ini saja, harga daging paling murah masih Rp 105 ribu. Itupun menurut Abu Hasan sudah turun setelah harga sapi di Malang turun rata-rata Rp 1 juta untuk satu ekor. ”Mungkin bisa turun lagi, kalau sampai Rp 80 ribu saya kira tidak,” tambahnya. Salah satu solusi agar daging sapi bisa turun hingga menembus Rp 80 ribu dalam satu kilogram, adalah mendatangkan sapi impor brahma dari Australia. ”Dagingnya juga impor, mungkin bisa murah,” jelasnya. Sedangkan untuk di Malang, kondisi minimnya sapi karena banyak perusahaan pedagang yang memilih menjual sapi mereka ke perusahaan penggemukan. ”Makanya sapi minim sekali di pasaran,” tambahnya. Sebelumnya, Presiden Jokowi menargetkan harga daging sapi bisa Rp 80 ribu per kilogram. Para menteri pun saat ini sedang memutar otak untuk memenuhi target berat itu. Disebut target berat karena dalam beberapa tahun terakhir harga daging berkisar Rp 100 ribu per kilogram.(zya/riq)  

Sosok Wito Argo (Bacawali PDIP) di Mata Keluarga

Batal Nikahkan Anak, Dikenal Legislator Humoris Kepergian Wito Argo menimbulkan luka mendalam. Tidak hanya bagi keluarga, tapi juga sesama koleganya di DPRD Kota Batu. Seperti apa sosok Wito Argo? ARIS SYAIFUL ANWAR RUMAH di Jalan Diponegoro, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji itu tidak pernah sepi. Tamu datang silih berganti. Rata-rata mengenakan busana hitam, dilengkapi kopiah hitam untuk kunjungan tamu laki-laki. Mereka datang untuk takziah atas meninggalnya Wito Argo, anggota DPRD Kota Batu sekaligus bakal calon wali kota (bacawali) PDIP, pada Pilkada Kota Batu 2017 mendatang. Jika tidak dipanggil yang maha kuasa, Wito akan bersaing dengan kader lain dari PDIP untuk memperebutkan rekomendasi dari Ketua Umum DPP PIPD Megawati Soekarno Putri. Di depan rumah duka, berderet ucapan bela sungkawa. Ada ucapan dari instansi pemerintah hingga swasta, dan partai politik (parpol). Tapi paling banyak dari petinggi PDIP. Seperti ucapan dari Megawati Soekarno Putri, Sekjend PDIP Hasto Kristiyanto, dan Wasekjend PDIP Ahmad Basarah. Selain kiriman bunga bela sungkawa, juga hadir koleganya sesama anggota DPRD. Di antaranya, Ketua DPRD Cahyo Edi Purnomo, Helly Suyanto, Didik Machmud, Nurochman, Hari Danah Wahyono. Pimpinan partai PDIP juga turut hadir, seperti Sekretaris DPD PDIP Jatim Sri Untari dan Ketua DPC PDIP Kota Batu Suliadi. Wito meninggal dalam perjalanan Malang-Bromo, saat mengikuti event trail bertajuk ’Orange Day Adventure Trail Big Bike Indonesia’, Sabtu (21/5). Seharusnya dia menempuh perjalanan sepanjang 90 kilometer, dari Malang-Bromo. Tapi sesampainya di Dusun Rojopatang, Desa Gerpu, Kecamatan Tutur, Pasuruan, Wito mengeluhkan kesehatannya sehingga meminta rombongan beristirahat. Di lokasi itu, tiba-tiba dia terjatuh dan meninggal. Diduga mengidap serangan jantung. Di mata keluarga, Wito dikenal sebagai sosok yang suka bercanda. Di sela-sela kesibukannya sebagai petani apel sekaligus legislator, Wito masih menyempatkan waktu berlibur bersama keluarganya. ”Ayah juga gampang bergaul,” ujar Erai Syafira Puspita, anak pertama dari dua bersaudara itu. Pantas dia terpukul setelah ditinggal ayahnya. Bahkan, gadis yang rencananya menikah pada Maret 2017 mendatang itu selalu teringat kenangan indah bersama sang ayah. Semasa kecil, Wito kerap mengajaknya jalan-jalan. Yang paling berkesan saat diajak berlibur ke Pulau Dewata. Di Bali, Wito ikut kejuaraan off-road. Hampir setiap hari, Ira digendong di pundak sejak pagi hingga sore hari. ”Semua pengalaman bersama …

Tunggu Rekom, Bacawali Meninggal Saat Ikuti Even Trail

Ikut Ngetrail ke Pasuruan, Meninggal saat Istirahat   KOTA BATU – Bakal Calon Wali Kota (Bacawali) Batu dari PDIP, Wito Argo, 55, tutup usia, sekitar pukul 14.00 kemarin (21/5). Warga Jalan Diponegoro, Desa Tulungrejo, RT 1/ RW 2, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, ini diduga meninggal karena serangan jantung. Sekretaris DPC PDIP Kota Batu itu meninggal saat mengikuti event trail bertajuk ’Orange Day Adventure Trail Big Bike Indonesia’ Rampal–Malang di Dusun Rojopatang, Desa Gerpu, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, yang digelar kemarin. Dari berbagai sumber yang diolah Jawa Pos Radar Malang, peristiwa ini berawal saat Wito yang juga anggota Komisi B DPRD Kota Batu itu mengikuti event trail dari Rampal Kota Malang. Ketika start di Lapangan Rampal, kemarin pukul 08.00, dia sehat-sehat saja. Nah, baru saat melintasi Dusun Rojopatang, Desa Gerpu, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, ini tiba-tiba Wito kurang nyaman. Sehingga, dia meminta untuk istirahat. ”Menurut teman-teman yang ngetrail, almarhum bilang ngantuk,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Bagyo Setiono di sela-sela mengevakuasi jenazah. Permintaan korban pun, lanjut Bagyo, langsung dituruti teman-teman peserta ngetrail. Mereka sepakat istirahat terlebih dahulu. ”Karena jarak yang ditempuh memang lumayan panjang,” imbuh pria tiga putra tersebut. Nah, ketika istirahat, Wito tampak berdiri. Namun saat berdiri, tiba-tiba dia terjatuh lagi. ”Dan akhirnya sampai meninggal. Kemungkinan kena serangan jantung. Tapi pastinya masih nunggu dari pihak berwajib,” ungkap dia. Sementara itu, info dari salah seorang panitia, Wito Argo seharusnya menempuh perjalanan sepanjang 90 kilometer. Start dari Lapangan Rampal, Kota Malang, dan finis di Gunung Bromo. Rute yang dilintasi adalah Nongkojajar (Pasuruan), Jabung (Kabupaten Malang), dan Bromo (Probolinggo). Sementara itu, semasa hidupnya, pria kelahiran  1961  yang biasa dipanggil dengan panggilan Wito Tembel ini dikenal sebagai sosok yang humoris dan mudah bergaul. Wito bisa menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekelilingnya. Bahkan, karena sikapnya yang menyenangkan itu, dia dikenal banyak orang. Wito pun bisa duduk di gedung DPRD Kota Batu selama dua periode. Dia kini menjadi anggota komisi B. Tak hanya itu, Wito juga menjadi salah satu bakal Calon Wali Kota Batu dalam penjaringan yang dilakukan oleh DPC PDIP Kota Batu. Nama Wito masuk di antara delapan nama bakal calon wali kota dan wakil wali …

Semua Bertopeng Wajah Kartini

MALANG KOTA – Semarak peringatan Hari Kartini di Kota Malang dihelat di sekolah, bank, hingga hotel, kemarin (21/4). Ada yang menggelar lomba fashion, mengenakan kebaya tradisional, hingga lomba membuat parsel cantik. Seperti di MAN 1 Kota Malang yang merayakan Hari Kartini dengan fashion show. Seluruh siswa X dan XI tampil dengan busana tradisional dan penampilan seluruh kelas X dan XI. Setiap kelas, ada dua siswa yang ditunjuk sebagai Kartini dan Kartono. Siswa lainnya mendukung penampilan kedua temannya dengan cara mengiringi musik hadrah. Ada juga kelas yang mementaskan musikalisasi puisi hingga drama pendek. Pelaksanaan tersebut dilakukan di halaman sekolah tepat di depan ruang guru. Wakil Kepala MAN 1 Kota Malang Bagian Humas Dia Erni Qomaria Rida mengatakan, peringatan Hari Kartini ini dilakukan setelah vakum selama 10 tahun. Perayaan ini untuk menanamkan rasa nasionalisme dengan didasari kaidah-kaidah Islam. ”Jadi siswa tidak hanya berlenggak-lenggok. Tapi juga harus paham betul sejarah Kartini,” kata Erni. Kalangan perhotelan juga turut memperingati Hari Kartini. Di Hotel Aria Gajayana misalnya. Karyawan dari front office, tim service, HRD, bahkan sekuriti mengenakan busana adat. General Manager Hotel Aria Gajayana Ratna Dwi Rachmawati mengatakan, dari awal berdiri hotel tersebut hingga saat ini, pihaknya rutin melakukan peringatan Hari Kartini dengan cara memakai pakaian adat. ”Semua karyawan wanita harus pakai baju daerah,” ujarnya. Ratna mengatakan, ini sebagai bentuk apresiasi untuk mengenang jasa-jasa Kartini sebagai pejuang emansipasi perempuan. ”Kalau tidak ada Kartini, kami tidak bisa seperti sekarang ini,” ucap dia. Dia ingin menunjukkan bahwa wanita juga bisa bekerja seperti laki-laki. Namun juga tidak keluar dari kodratnya sebagai perempuan. (rae/lia)  

Demi Target, UM Gerilya 400 Sekolah

KOTA MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) rupanya tidak ingin melewatkan kesempatan menyerap mahasiswa baru dari jalur undangan alias seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Dari jalur SNMPTN itu, UM mendapatkan kuota 50 persen dari total maba tahun ini yang diprediksi mencapai 6.000 maba. Artinya, ada 3.000 maba yang diterima melalui jalur ini. Tidak ingin melenceng dari target, Jumat (30/1) lalu, UM menggelar sosialisasi di ruang sidang gedung A3 UM. Tak tanggung-tanggung, sosialisasi ini dihadiri oleh sekitar 400 perwakilan dari 400 sekolah yang ada di wilayah Jawa Timur. Pasalnya, peserta tidak hanya datang dari Malang Raya, melainkan juga datang dari Pacitan, Madiun, Ngawi, hingga Sumenep. Wilayah sosialisasi UM ini memang luas. Namun, menurut Kabiro Akademik UB Amin Sidiq, pihak kampus akan lebih meningkatkan lokasi cakupan sosialisasi. Yakni, menjangkau hingga ke wilayah di luar Pulau Jawa. Bahkan, UM juga bertekad akan lebih aktif dalam menjemput bola untuk melaksanakan sosialisasi ini. ”Hingga saat ini sudah ada tawaran dari Bontang dan Blitar untuk kami mengadakan sosialisasi di sana,” terangnya kemarin. Dalam kesempatan kemarin, Amin menyampaikan tips jitu agar diterima di SNMPTN UM. Yakni, bagi sekolah-sekolah yang mendaftar SNMPTN disarankan dalam satu kelas atau satu angkatan tidak memilih prodi yang sama dalam jumlah yang besar. Dia mencontohkan, tidak disarankan satu kelas banyak yang memilih prodi tertentu. Ada baiknya jika pilihan kelas tersebut disebar ke beberapa prodi yang ditawarkan UM. Penyebaran pilihan ini dilakukan untuk memperkecil tingkat persaingan. ”Namun, tetap harus sesuai dengan minatnya. Jangan sampai karena hanya ingin diterima di UM, prodinya asal-asalan tidak sesuai keinginan,” pesannya. Lebih lanjut, dia menyarankan, bagi sekolah yang mendaftarkan siswanya untuk tidak melakukan kecurangan dalam input data. Kecurangan ini berupa manipulasi atau mark up nilai bagi peserta didik agar diterima melalui jalur undangan. Sebab, sanksi yang harus diterima cukup berat. Sekolah yang terbukti curang akan di-blacklist dari daftar SNMPTN UM. Menurut Amin, ada beberapa sekolah di luar Kota Malang yang melakukan kecurangan semacam itu. ”Ada beberapa sekolah dari luar kota yang sudah kami blacklist,” terangnya tanpa merinci sekolah tersebut. Sementara itu, bagi sekolah yang siswanya dinyatakan diterima di UM namun pada saat daftar ulang mengundurkan diri, maka UM akan menganalisa sejauh mana …

Show Your Outfit Today!

Zetizen, siapa sih yang gak tau hashtag #OOTD! Hashtag yang sering banget muncul di akun sosial media, terutama Instagram, emang berhasil banget menarik perhatian kita para Zetizen. OOTD atau Outfit of The Day pastinya disertai dengan foto yang diunggah ke socmed dengan seseorang yang menggunakan outfit tertentu nih Zetizen! Awalnya ya Zetizen, hashtag OOTD dipakai sama para Fashion Blogger buat pamer pakaian yang mereka pakai pada hari itu. Biasanya yang mereka pamerkan adalah foto outfit terbaru atau hasil ’sulapan’ mix and match. Terus-terus, OOTD gak bakalan lengkap kalo foto Cuma separo-separo aja ya Zetizen. Mereka bakal upload foto from head to your toe tip! Nggak lupa juga nyebutin nama brand yang dipakai. Eits, tapi jangan salah nih Zetizen, justru karena banyaknya hashtag itu, banyak banget bermunculan selebgram yang style-nya bisa ditiru sama kita-kita buat tampil kece, lho! Ini nih, kayak Thessarza Natasha Pandira Zetizen. Di akun media sosial Instagramnya, terbukti banget kalau dia jadi salah satu kiblat outfit buat para anak hits! Terbukti banget nih, dari 140 postingan foto yang dia upload di Instagram, sebagian besar adalah OOTD-nya lho! Meski tidak semua foto yang diunggahnya dikasih hashtag #OOTD, akun Instagramnya punya 1.728 followers, Zetizen! Huuu, keren yaaa! So, what’s your outfit today? (nov/nen)