Malang Kota – Penulis Indonesia yang masuk dalam daftar panjang penulis World Readers 2016, Eka Kurniawan berbagi tips proses kreatif kepenulisan di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM).
Eka mengaku setelah belajar dari banyak novel, hasil dari sejarah panjang novel modern sejak Don Quixote, ada “aturan-aturan” dalam menulis cerita. Aturan-aturan ini bisa dipelajari dan banyak orang dengan senang hati untuk mengajari baik dibayar atau tidak. “Kita bisa meniru mereka, mengikuti jalan yang sudah dirintis oleh para pendahulu kita,” ujarnya. Di antaranya mempelajari bagaimana membuat paragraf pertama. Bagaimana menyusun plot. Bagaimana membangun karakter yang dinamis, maupun yang datar. Bagaimana membangun tangga dramatik.
Sebelumnya,novel Eka berjudul Man Tiger atau Lelaki Harimau masuk dalam ‘long list’ The Man Booker International Prize 2016. Selain itu, novelnya yang berjudul Beauty is Wound atau Cantik Itu Luka berhasil mendapatkan penghargaan World Readers.
Novel Beauty is Wound diterjemahkan ke dalam 24 bahasa dan kritikus menyandingkannya dengan karya-karya Gabriel Garcia Marquez dan Fyodoor Dostoevsky. Sedangkan Man Tiger dialihbasakan ke dalam 5 bahasa, dan di Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 lalu, nama Eka Kurniawan menjadi salah satu highlight dalam pameran buku tertua dan terbesar di dunia tersebut. Baru-baru ini dia merilis novek terbarunya berjuduk O, sebuah novel yang tokoh utamanya seekor monyet bernama O.
Eka Kurniawan hadir di Malang dalam rangkaian kegiatan Santap Gagasan Kafe Pustaka. Mengangkat topik Menerobos Situasi Batas: Inspirasi Kreatif Eka Kurniawan, hadir juga sebagai pembicara kritikus sastra Malang Yusri Fajar dan dimoderatori cerpenis muda Dwi Ratih Ramadhany.
Diskusi ini merupakan kerja sama Pelangi Sastra Malang, Indonesia Sastra, Kafe Pustaka, dan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang. (lil/riq)

 

Similar Posts