Unik, Satu Keluarga Tekuni Olahraga Sama

  • Redaktur:
  • Minggu, 18 Desember 2016 | 16:10
  • / 18 Rabiul Uula 1438
  • Dibaca : 140 kali
Unik, Satu Keluarga Tekuni Olahraga Sama

Di Kota Batu, barangkali tak banyak yang seperti keluarga Nurrakhman. Sebab, Nurrakhman serta dua putrinya, Dhia Larasati dan Windi Banyu Bening kompak menggeluti olahraga tenis meja.

ABDUL AZIZ MAHRIZAL

Saat ditemui di rumahnya, di Jalan Simpang Karate, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Rabu (14/12) malam, Nurrakhman dan istrinya menunjukkan puluhan medali, piagam, dan piala yang pernah diraih Larassapaan akrab Dhia Larasati atau Windi. Antara lain, medali Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat kota/kabupaten hingga tingkat nasional.

Prestasi terakhir ditorehkan Laras di ajang O2SN tingkat nasional, di Cibubur, 2430 Juli lalu. Kala itu, Laras mampu meraih juara II. Kalau Windi, terakhir kali juara I O2SN Kabupaten Malang,” kata Isro Dewi Agustin Ningsih, sang ibu.

Isro menyatakan, apa yang sudah dicapai kedua anaknya tergolong luar biasa. Mereka punya masa depan yang cerah di olahraga tersebut. Sebab, Laras yang kini tercatat sebagai siswi kelas XII SMAN 2 Batu, masih 17 tahun. Sementara sang adik, Windi, berusia 11 tahun dan duduk di bangku kelas VI SDN Sumberagung 01, Kecamatan Ngantang.

Nurrakhman dan keluarga sebenarnya tercatat sebagai warga Ngantang. Tapi, karena si sulung Laras harus melanjutkan studi di Batu, keluarga ini harus tinggal terpisah. Nurrakhman bersama Laras tinggal di Batu. Sementara sang istri, Isro, menetap dengan Windi di Ngantang.

Meski tinggal di Ngantang Windi tergabung dalam Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kota Batu. Oleh karena itu, Windi sempat ada dalam posisi dilematis saat memilih memperkuat kontingen Batu atau Kabupaten Malang.

Sebab, dia memang diminati kontingen Batu dan Kabupaten Malang. Tapi, karena dia sekolah di Kabupaten Malang, untuk pertandingan resmi ya bela Kabupaten Malang,” ujar Nurrakhman yang menjadi pelatih di Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kota Batu.

Sebagai pelatih tenis meja, Nurrakhman punya andil besar dalam mengenalkan olahraga ini kepada dua anaknya. Laras menjadi yang pertama belajar tenis meja saat masih duduk di bangku kelas III SD.

Nurrakhman punya alasan kuat mengapa harus memperkenalkan anaknya pada dunia olahraga. Saya hanya ingin anak tidak bersinggungan dengan lingkungan pergaulan yang salah,” ujarnya.

Awalnya, Nurrakhman ingin memperkenalkan voli kepada Laras. Namun, postur tubuh Laras rupanya kurang menunjang untuk menjadi atlet voli. Saya juga khawatir cedera karena voli butuh fisik kuat,” katanya. Tenis meja, lanjutnya, menjadi olahraga yang paling pas bagi Laras.

Meski begitu, butuh waktu dua tahun bagi Laras untuk benar-benar menguasai dasar-dasar tenis meja. ”Lain lagi dengan adiknya (Windi). Dia bahkan sejak taman kanak-kanak (TK) sudah akrab dengan tenis meja karena sering ikut lihat kakaknya (Laras) bermain,” ujar pria yang juga petani tersebut.

Baru ketika kelas I SD, Windi berlatih tenis meja lebih serius. Namanya juga anak-anak, rasa bosan sering kali menghinggapi Windi. Kalau sudah begitu, dia minta diputarkan lagu-lagu kesukaannya. Misalnya, lagunya Tasya Libur Telah Tiba,” kata dia.

Bersama Nurrakhman, Laras dan Windi biasa berlatih tiga kali seminggu. Selain itu, ada menu latihan mental yang diberikan Nurrakhman, untuk dua putrinya ini.

Latihan itu mengikutsertakan Laras dan Windi ke sekolah modeling dan seni. Windi misalnya, sejak duduk di kelas III SD, sudah akrab dengan panggung catwalk menjadi anak didik di Andre Modelling School (AMS). Sedangkan kakaknya, Laras tergabung dalam AFA Production dan lebih fokus pada bidang menyanyi. Dengan cara ini, anak-anak bisa seimbang antara olahraga dan seni. Juga membiasakan mereka dilihat banyak orang,” ungkap dia. (*/c4/muf)

Foto Terbaru

  • ©2016 RadarMalang

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional